(Freelance) Hikoukigumo

hikoukigumo-poster-by-echaminswag

Hikoukigumo

By  FiolaCindy

Park Chanyeol | Lee Chan (OC)

Poster by echaminswag~

 

Attention:

Fanfiksi ini diambil dari makna lirik lagu AKB48 – Hikoukigumo atau dalam bahasa Indonesia artinya Jejak Awan Pesawat dan ini bukanlah unsur keplagiatan

 

“Berlalunya pesawat yang terbang meninggalkan jejak awan di langit begitupun berlalunya dirimu meninggalkan bekas luka di hatiku bersama itu pula selamat tinggal untuk selamanya.”

Hai, aku Lee Chan. Satu – satunya gadis keturunan Korea – Jepang yang berhasil selamat dari sebuah insiden yang bahkan merenggut hampir ratusan jiwa.Mari kuceritakan sebuah peristiwa yang pernah kualami. Sebuah peristiwa yang sukses membuatku terpukul selama hampir dua tahun ini. Yang membuatku kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku. Baiklah kita akan kembali ke dua tahun yang lalu ke hari dimana kejadian mengerikan itu terjadi dari sini kita mulai …

 

Libur musim panas tahun ini aku hendak menghubungi seseorang yang sudah lama tidak kutemui. Seseorang yang sedang berada di sebrang teleponku saat ini. Sudah lama aku tak bertatap mata secara langsung denganya dikarenakan tuntutan pendidikan yang sangat membuatku tersibukkan oleh itu. Sedangkan kekasihku, Park Chanyeol terlalu sibuk dengan latihannya. Saat yang tepat seperti inilah kami dapat kembali bersama.

 

Kami hendak merencanakan untuk pergi berlibur ke tempat di luar Korea. Sudah terbayang betapa senangnya diriku bisa menghabiskan waktu bersama Chanyeol. Memang benar – benar sudah lama kami tidak menghabiskan waktu bersama semenjak aku masuk universitas ternama di Korea.

 

“Jadi harus kemana kita? Sydney, London, New York, Bali, Hongkong, bagaimana?” tanyaku yang tengah sibuk memilih salah satu diantara tiket – tiket yang berada dalam genggamanku.

 

“Kemanapun asalkan kau bersamaku.” Lontar laki – laki 22 tahun yang tidak lain dan tidak bukan adalah Park Chanyeol, kekasihku.

 

“Ayolah. Bagaimana kalau kita ke Eropa? Paris mungkin.” tawarku dengan nada berharap – eum sedikit memaksa mungkin. Benar, Paris. Kota yang sangat  kuidam – idamkan dimana aku bisa pergi ke sana bersama orang yang kusayangi. Kota dimana impian terwujud.

 

Hingga tercapai kesepakatan antara kami berdua untuk berlibur ke Paris. Awalnya berjalan sangat lancar tapi yang tidak kami sadari itu adalah awal dari terror ini.

 

– Hikoukigumo –

www.bubbleteastory.wordpress.com

 

Jadwal penerbangan pesawat yang akan aku ambil pukul 19.00 KST. Itu artinya 6 jam dari sekarang dan aku benar – benar sudah mempersiapkan barang – barang yang akan kubawa nantinya. Bagaimana tidak? Sudah berbulan – bulan aku menunggu momen seperti ini. Aku akan menuju bandara bersama adik perempuanku Lee Na. Satu – satunya anggota keluarga inti yang masih kumiliki.

 

“Eonni kenapa kau harus pergi? Kenapa kau harus pergi berlibur  ke luar negri bersama Chanyeol sunbae dan meninggalkanku? Kumohon jangan pergi aku tidak ingin kehilanganmu.” Rengek adik kecilku yang masih duduk di bangku sekolah menengah.

 

“Ah kau ini seperti anak kecil saja. Aku hanya pergi beberapa hari saja.”

 

“Iya tapi bisakah eonni berlibur ke tempat yang dekat saja. Kau tidak perlu naik pesawat.” Ada sebuah masa lalu kelam dalam hidupku dan Lee Na. Kedua orang tua kami meninggal tujuh tahun yang lalu dikarenakan kecelakaan pesawat saat mereka hendak kembali dari Hong Kong. Lee Na yang masih kecil menyimpan trauma yang sangat mendalam akibat kejadian itu. Dan itulah sebabnya ia selalu khawatir ketika aku hendak berpergian menggunakan pesawat.

 

“Kau tidak perlu khawatir. Ada Chanyeol mendampingiku aku akan baik – baik saja.”

 

“Hai apakah dia benar – benar tidak apa? Kupikir kita bisa menunda liburan kita untuknya. Kau benar – benar tidak akan meninggalkanya sendirian kan?” tanya Chanyeol yang muncul entah darimana.

 

“Tidak apa. Selagi kita berlibur ia akan tinggal bersama bibinya di Incheon ia tidak akan sendirian. Baik Lee Na kami berangkat jaga dirimu baik – baik. Kakak menyayangimu.”

 

“Eonni …” tampak setetes air mata jatuh dari mata Lee Na yang membasahi pipi kecil meronanya. Terselip keganjalan di lubuk hatinya dan juga kekhawatiran pada air matanya.

 

Roda pesawat mulai berputar dan pesawat perlahan – lahan meninggalkan landasan membuat bandar udara yang terlihat besar semakin mengecil sampai tak terlihat seiring berjalanya waktu. Aku dan Chanyeol meninggalkan Lee Na sendirian di bandara tapi jangan khawatirkan dia mari kita kembali ke sepasang kekasih yang sedang menikmati masa mereka. Kami berdua tampak sangat senang dapat bertemu setelah sekian lama terpisah. Namun dibalik itu semua terselip kegelisahan Lee Na mengenai kakaknya – aku .

 

Perjalanan yang mulus pada awalnya mulai menjadi kelam dan mencekam. Langit yang cerah tiba – tiba menjadi gelap. Awan – awan gelap yang mulai bedatangan begitupun petir yang \\menyambar  membuat suasana benar – benar manakutkan. Badai yang menghadang tepat di depan pesawat seakan siap untuk menelan badan pesawat beserta seluruh penumpang hidup – hidup.

 

Pesawat yang kami tumpangi tiba – tiba terkena kendala karena cuaca yang tidak mendukung. Sebuah badai besar berada tepat di depan kami. Seluruh penumpang berada dalam kepanikan. Walaupun pramugari telah menghimbau agar kami tidak merasa panik tapi itu tetap tiada gunanya. Bayangkan saja jika kau yang berada dalam keadaan ini, kau tidak waras jika tidak merasa panik.  Aku yang merasa ketakutan langsung memegang tangan Chanyeol dengan sangat erat. Aku menangis dalam dekapnya memohon agar dapat keluar dari tempat ini. Jika saja aku tidak mengabaikan Lee Na dan memilih untuk tetap tinggal denganya kami tidak akan ada di sini. Aku benar – benar ketakutan mengingat kejadian tujuh tahun yang lalu. Air mataku terus saja mengalir. Hingga mataku dan mata Chanyeol bertemu pada satu titik pandangan saat aku menatapnya. Kedua iris coklat pekatnya yang memantulkan sinar. Bercahaya, seperti malaikat. Bibirnya tipis membentuk sebuah lengkungan indah, ia tersenyum. Ia terlihat sangat tenang sementara aku?

 

“Tenanglah. Aku bersamamu.” Lontarnya dengan suaranya yang paling halus yang pernah ia katakan. Oh Tuhan apakah dia gila? Dalam keadaan seperti ini dia menyuruhku untuk tetap tenang? Sialan kau Park Chanyeol. Baiklah kali ini dia memang tidak waras.

 

Kami terus terguncang seakan diterpa gempa bumi. Seluruh penumpang hanyut dalam air mata. Begitupun dengan diriku yang terus menangis dan memanjatkan doa agar kami dapat selamat walaupun sangat kecil kemungkinanya.

 

Aku terus menangis dalam dekapnya. Chanyeol tepat berada di depan mataku. Ia tak lelah menunjukkan senyumnya kepadaku walaupun dalam keadaan tersulitnya. Ia membuatku merasa lebih tenang. Hingga aku merasakan adanya sebuah cairan kental di tanganku, baunya anyir. Darah. Tanpa kusadari serpihan tajam, sebuah puing pesawat yang telah hancur menembus bagian belakang tubuhnya.

 

Iya terus mencoba untuk tidak meruntuhkan senyumanya. Wajahnya pucat. Tatapan yang ia berikan hanyalah sebuah tatapan kosong. Senyum yang ia pertahankan mulai memudar. Aku yang tak dapat berbuat apa – apa hanya terus menangis dan berteriak kepadanya. Air mata yang awalnya mulai reda kini malah bertambah deras.  Aku benar – benar tak kuasa melihatnya.

 

“Sayonara … Ichan. Watashi wa anata o aishite. Arigatou. Sayonara.”

 

Tepat saat tetes darah terakhir menetes. Saat nafas terakhirmu kau hembuskan, kau gunakan untuk membisikkan selamat tinggal kepadaku. Satu kata yang kau bisikan padaku yang membuat satu goresan luka baru di hatiku dan akan membekas sampai kapanpun, ”sayonara.”

 

– Hikoukigumo –

www.bubbleteastory.wordpress.com

 

Aku terbangun dalam keadaan masih dalam dekapanya. Saat pandanganku mulai menyusuri tubuhnya aku menemukan bekas serpihan pesawat yang tadinya menancap pada punggung Chanyeol. Bahkan masih terdapat bekas darahnya di kemejaku. Aku tak percaya apa yang aku lihat.  Namun kemudian menyadari hal itu bukan mimpi, aku hanya dapat melihat jasadnya terbaring di sampingku serta menangisi kepergianya. Ia telah berjanji untuk menjagaku dan kini ia benar – benar menepati janjinya itu dengan mengorbankan nyawanya demi melindungiku.

 

Aku terdampar di pulau antah berantah. Aku terlalu lemas untuk mencari tahu dimana tepatnya aku berada. Aku hanya akan menunggu dan tetap menunggu seseorang menjemputku mambawaku pulang kepada adikku. Ditengah air mataku aku telelap dalam pelukan Chanyeol.

 

Saat aku bangun keesokan harinya aku sudah melihat Lee Na dan temanku Soo Jung berdiri di tepi ranjangku dalam sebuah kamar rumah sakit. Mereka menyapaku dengan hangat. Saat kesadaranku meningkat Soo Jung mulai menceritakan apa yang telah terjadi kepadaku. Aku ditemukan oleh tim penyelamat setelah berhari – hari dinyatakan hilang dan bangun di kamar rumah sakit setelah koma selama beberapa hari. Jadi jika dihitung aku sempat hilang kesadaran selama hampir 2 minggu.

 

Ia juga mengatakan bahwa dari sekian ratus penumpang, akulah satu – satunya yang dapat ditemukan dalam keadaan masih hidup. Syukurlah, Tuhan masih berpihak kepadaku.

 

Setelah beberapa minggu pemulihan aku dapat beraktifitas seperti biasa lagi. Menempuh pendidikan seperti dulu lagi. Pagi ini, saat aku berjalan menuju universitas aku berpapasan dengan sesosok bayangan hitam melaluiku. Bayangan itu adalah seekor kucing hitam dengan luka gores pada bagian punggungnya melintas di depanku. Walau aku tak dapat melihat rupanya dengan jelas namun kutahu ia tersenyum kepadaku. Aneh, benar.

 

Bahkan setelah selesai beraktifitas aku menyempatkan diri pergi ke bukit belakang sekolahku dulu bersama Chanyeol. Disinilah kami biasa berbaring diatas rerumputan hijau memandangi langit biru dengan awan – awan putihnya yang terkadang membentuk sesuatu yang indah. Ataupun menghitung bintang – bintang yang bertebaran di langit malam. Saat kupandangi langit biru sebuah pesawat terbang melintasi angkasa meninggalkan jejak awan pesawat yang putih memanjang mengingatkanku akan seseorang yang telah pergi dari kehidupanku. Perasaan siapa yang tak mampu menoleh ke belakang. Kini cinta itu telah layu dan gugur. Begitu menyakitkan hingga aku tak dapat membayangkan kembali kejadian itu. Sungguh ingin kulupakan kejadian itu.

 

Aku hanya ingin menuju ke tempat sepi dimana aku dapat bertemu lagi denganmu karena di sini terlalu ramai. Walaupun kau sudah berada di langit kuyakin suatu saat kita akan bertemu lagi ditempat dimana ku dapat menggenggam tanganmu kembali.

 

Itulah kisahku. Peristiwa dua tahun yang lalu dimana sebuah insiden jatuhnya pesawat merenggut nyawa orang yang paling aku sayangi. Peristiwa yang sukses membuatku benar – benar terpukul masa itu. Jika kau bertanya – tanya apa yang kurasakan menjadi satu – satunya orang yang selamat dari kecelakaan maut tersebut maka aku akan menjawab menjadi satu – satunya yang selamat aku hanya merasakan kesepian, kesedihan dan juga kepedihan karena aku telah kehilangan Park Chanyeol dan harus menjalani sisa hidupku tanpanya.

Karna berlalunya pesawat yang meninggalkan jejak awan putih di langit begitupun berlalunya dirimu yang meninggalkan bekas luka di hatiku bersama itu pula selamat tinggal untuk selamanya.

 

Sayonara

 

Lee Chan

14 Februari 2015

Ciye ciye yang bikin fanfiksi nyesek *ketawangalaunyadeh. Haha bukan maksudku menghancurkan momen bahagianya – untuk yang taken tentunya – tapi yah begitulah. Hanya berharap sabtu malam hujan – you know what i mean. Baiklah sampai di sini pembicaraanya karna walaupun pacar /cielah/ author ulang tahun tapi author kagak dapet pajak ultahnya maupun coklat kemaren valentine yang dapet bagi-bagi dunks. Haha yaudah gitu aja, thank for reading and comment jusseyo 😀

Iklan